Kenapa Harus Bermadzhab? Pentingnya Sanad Keilmuan di Era Banjir Informasi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat Inspirasi! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga cahaya hidayah selalu memayungi setiap langkah kaki kita dalam mencari kebenaran, ya!

Di zaman sekarang, kita hidup di era di mana informasi agama bisa didapatkan hanya dengan satu kali klik. Mulai dari video pendek di TikTok hingga utas panjang di Twitter, semua orang bicara tentang agama. Namun, pernahkah kamu merasa bingung karena satu ustaz bilang A, sementara ustaz lain bilang B? Di sinilah kita butuh yang namanya madzhab. Bermadzhab bukan berarti kita fanatik buta atau mengabaikan Al-Quran dan Hadits, melainkan sebuah metode cerdas agar kita tidak tersesat dalam memahami sumber hukum Islam yang sangat luas dan mendalam tersebut.

Bayangkan jika kamu ingin menjadi seorang dokter spesialis bedah. Apakah kamu cukup hanya dengan membaca buku anatomi secara otodidak lalu langsung melakukan operasi? Tentu tidak. Kamu butuh guru, kurikulum yang teruji, dan sertifikasi resmi. Begitu juga dalam agama; memahami ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah membutuhkan perangkat ilmu yang sangat banyak, seperti ilmu nahwu, sharaf, ushul fiqh, hingga nasikh mansukh. Madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) adalah "universitas" yang sudah mengkristalkan ilmu-ilmu tersebut selama ribuan tahun agar kita bisa beribadah dengan tenang dan benar.

Anak muda zaman sekarang sering bertanya, "Kenapa tidak langsung ke Al-Quran dan Hadits saja?" Jawabannya sederhana: karena kita bukan Imam Syafi'i yang hafal ribuan hadits dan sangat ahli bahasa Arab. Mengambil hukum langsung dari sumber asli tanpa bimbingan madzhab ibarat orang awam yang mencoba meracik obat kimia dosis tinggi tanpa resep apoteker; bukannya sembuh, malah bisa celaka. Bermadzhab adalah bentuk kerendahhatian kita untuk mengakui bahwa ada ulama-ulama besar yang jauh lebih alim dan lebih dekat masanya dengan Rasulullah yang telah memetakan hukum bagi kita.

Pentingnya bermadzhab juga berkaitan erat dengan yang namanya Sanad Keilmuan. Sanad adalah rantai transmisi ilmu yang menyambungkan seorang murid dengan gurunya, terus bersambung hingga ke para sahabat dan akhirnya sampai ke Rasulullah SAW. Di dunia digital, banyak "ustaz dadakan" yang bicaranya lantang tapi tidak jelas siapa gurunya dan di mana pesantrennya. Dengan bermadzhab, kita memastikan bahwa ilmu yang kita pelajari memiliki silsilah yang sah dan tidak terputus, sehingga orisinalitas ajaran Islam tetap terjaga dari penyimpangan logika pribadi.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) dan Aswaja, kita sangat menekankan pentingnya berpegang pada salah satu madzhab empat, khususnya Madzhab Syafi'i yang paling relevan dengan kondisi geografis dan sosiologis di Indonesia. Madzhab memberikan kita kepastian hukum dalam beribadah sehari-hari. Misalnya, bagaimana tata cara wudhu yang sah, apa saja pembatal shalat, hingga bagaimana aturan zakat. Tanpa madzhab, ibadah kita akan menjadi "gado-gado" yang tidak jelas dasarnya, yang justru bisa memicu keragu-raguan dalam hati.

Selain itu, bermadzhab mengajarkan kita tentang etika dalam perbedaan pendapat (ikhtilaf). Jika kita mempelajari perbandingan madzhab, kita akan menyadari bahwa para imam madzhab saling menghormati satu sama lain meskipun memiliki perbedaan dalam detail hukum. Ini adalah pelajaran toleransi yang sangat mahal bagi anak muda saat ini agar tidak mudah membid'ah-kan atau mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan cara bersedekap dalam shalat. Madzhab justru membuat Islam menjadi luwes dan fleksibel menghadapi perkembangan zaman.

Era banjir informasi saat ini menuntut kita untuk memiliki "jangkar" yang kuat agar tidak terombang-ambing oleh konten-konten provokatif. Bermadzhab adalah jangkar tersebut. Ia melindungi kita dari pemahaman radikal yang seringkali mengambil ayat secara tekstual tanpa melihat konteks sejarah dan pendapat ulama terdahulu. Dengan mengikuti madzhab, kita mengikuti jalur mayoritas umat Islam (As-Sawadul A'dzam) yang telah teruji selamat melintasi berbagai zaman dan peradaban.

Mari kita jadikan aktivitas belajar agama sebagai proses yang serius namun menyenangkan. Carilah guru-guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan ajaran yang menyejukkan. Jangan hanya terpaku pada siapa yang paling viral, tapi lihatlah siapa yang paling wara' (berhati-hati) dan berpegang teguh pada tradisi keilmuan para ulama salaf. Belajar bermadzhab adalah langkah awal kita untuk menjadi pribadi yang tidak hanya pintar secara kognitif, tapi juga dewasa secara spiritual.

Sebagai penutup, mari kita yakini bahwa mengikuti madzhab adalah cara kita mengikuti Rasulullah SAW dengan cara yang paling aman dan terstruktur. Tidak ada kata terlambat untuk mulai mempelajari kitab-kitab dasar madzhab seperti Safinatun Najah atau Fathul Qarib agar fondasi ibadah kita semakin kokoh. Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, jalan para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang sholeh.

Motto Inspirasi: "Ilmu tanpa sanad ibarat pengembara tanpa kompas; ia bergerak cepat namun tak pernah benar-benar tahu kemana arah pulang."


Meta Description: Pelajari pentingnya bermadzhab dan sanad keilmuan bagi anak muda di era digital. Memahami Islam Aswaja secara mendalam agar ibadah sah dan hati tenang.

Keywords: Pentingnya Bermadzhab, Sanad Keilmuan, Islam Aswaja, Nahdlatul Ulama, Empat Madzhab, Belajar Agama Digital, Fikih Syafi'i.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar