Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Sahabat Inspirasi! Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga semangatmu untuk menuntut ilmu tetap menyala dan hati kita selalu dilapangkan untuk menerima nasehat-nasehat kebaikan.
Di zaman sekarang, kita bisa mengakses ribuan tutorial, e-book, hingga ceramah agama hanya dalam hitungan detik. Kita merasa begitu mudah menjadi "pintar" karena semua informasi ada di ujung jari. Namun, pernahkah kamu merasakan bahwa meski sudah banyak membaca dan mendengar, ilmu tersebut seolah menguap begitu saja? Tidak ada perubahan pada perilaku, dan tidak ada ketenangan dalam jiwa. Di sinilah letak perbedaannya: kita mungkin memiliki banyak "informasi", tapi kita kehilangan "keberkahan ilmu" karena mengabaikan satu hal krusial, yaitu adab terhadap guru.
Para ulama terdahulu seringkali berpesan, "Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari suatu ilmu." Mengapa adab begitu didahulukan? Karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam wadah (hati) yang kotor atau kepada pribadi yang sombong. Adab adalah cara kita memuliakan ilmu itu sendiri melalui penghormatan kepada pembawanya (guru). Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi tumpukan teori di kepala yang tidak jarang justru membuat pemiliknya merasa lebih hebat dan meremehkan orang lain.
Anak muda milenial dan Gen Z mungkin merasa canggung dengan konsep "ta'dzim" atau penghormatan yang mendalam karena terbiasa dengan pola komunikasi yang egaliter dan santai. Namun, dalam dunia spiritual dan keilmuan Islam, posisi guru bukan sekadar "penyedia jasa informasi". Guru adalah orang tua spiritual kita. Jika orang tua biologis berjasa menyambungkan kita ke dunia, maka guru berjasa menyambungkan jiwa kita kepada Allah SWT. Maka, menjaga lisan, sikap, dan prasangka baik kepada guru adalah kunci utama agar ilmu yang kita terima menjadi bermanfaat.
Salah satu adab yang sering terlupakan di era digital adalah cara kita berinteraksi dengan guru atau ustaz di media sosial. Seringkali kita berani mendebat guru di kolom komentar dengan bahasa yang kurang sopan, atau membagikan potongan video ceramah tanpa tabayyun (klarifikasi) yang justru bisa menimbulkan fitnah. Ingatlah kisah Imam Syafi'i yang sangat berhati-hati saat membalikkan lembaran kertas di depan gurunya, Imam Malik, agar suara gesekan kertas tidak mengganggu sang guru. Ketelitian dalam menjaga perasaan guru inilah yang membuat ilmu Imam Syafi'i kekal dan diberkahi hingga hari ini.
Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), kita mengenal konsep ngalap berkah. Berkah itu bukan mistis, melainkan bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair). Saat kita beradab, guru akan merasa ridha. Keridhaan guru inilah yang akan menjadi "pelumas" bagi otak kita untuk lebih mudah memahami ilmu yang sulit sekalipun. Sebaliknya, meski kita memiliki IQ tinggi, jika hati guru tersakiti oleh kesombongan kita, ilmu tersebut mungkin akan sulit diamalkan atau bahkan disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik.
Selain itu, adab juga mencakup kesabaran dalam belajar. Kita sering ingin serba instan, baru belajar satu-dua dalil sudah merasa bisa menyalahkan ulama yang sudah belajar puluhan tahun. Adab menuntut kita untuk mendengarkan lebih banyak, mengendapkan ilmu dalam hati, dan selalu merasa haus akan bimbingan. Jangan merasa cukup dengan Google, karena Google bisa memberimu jawaban, tapi ia tidak bisa memberikanmu keteladanan akhlak dan sirr (rahasia) batin yang hanya bisa didapat melalui kedekatan dengan seorang guru.
Mari kita mulai memperbaiki cara kita memandang para pendidik kita, baik itu guru di sekolah, dosen di kampus, maupun kyai dan ustaz di pengajian. Kecanggihan teknologi tidak boleh melunturkan nilai-nilai luhur ketimuran dan keislaman kita. Sapalah mereka dengan hormat, mintalah doa restu mereka, dan jagalah nama baik mereka. Keberhasilanmu di masa depan bukan hanya ditentukan oleh nilai IPK atau tumpukan sertifikat, tapi seberapa ridha guru-gurumu saat namamu disebut dalam doa-doa mereka.
Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuat kita semakin tunduk kepada Allah dan semakin rendah hati kepada manusia. Semua itu bermula dari satu titik: Adab. Semoga Allah memberikan kita taufiq agar senantiasa menjadi murid yang beradab, sehingga ilmu yang kita pelajari menjadi penyelamat kita di dunia dan akhirat. Tetaplah semangat belajar, dan jangan lupa mendoakan guru-gurumu hari ini!
Motto Inspirasi: "Ilmu menjadikannmu mengerti, namun adab menjadikannmu berharga. Pintar itu pilihan, tapi beradab adalah kewajiban."
Meta Description: Pentingnya adab terhadap guru dalam menuntut ilmu menurut tradisi ulama salaf. Rahasia mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat bagi anak muda.
Keywords: Adab Sebelum Ilmu, Pentingnya Guru, Keberkahan Belajar, Akhlak Muslim, Adab Terhadap Guru, Ngalap Berkah, Pendidikan Karakter Islam.

Komentar
Posting Komentar