Halo, para warga netizen yang budiman! Sudahkah kamu menebar senyum atau malah menebar "toxic" di kolom komentar pagi ini?
Dunia digital saat ini sudah seperti rumah kedua bagi kita, di mana setiap aktivitas hampir selalu melibatkan jempol dan layar ponsel. Namun, seringkali kita lupa bahwa di balik layar itu ada manusia nyata yang memiliki perasaan, serta ada malaikat yang tetap mencatat setiap ketikan kita. Dalam Islam, adab atau etika selalu ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu, dan hal ini berlaku mutlak di dunia maya maupun nyata.
Anak muda seringkali terjebak dalam budaya "comment war" hanya untuk menunjukkan siapa yang paling pintar atau paling benar. Padahal, Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti bahwa seorang muslim yang baik adalah mereka yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Di era sekarang, "tangan" ini bertransformasi menjadi ketikan keyboard yang bisa berdampak jauh lebih luas dan permanen daripada sekadar ucapan.
Hati-hati dengan fenomena ghibah digital atau membicarakan aib orang lain yang dikemas dalam bentuk konten "spill the tea" atau gosip viral. Meskipun terlihat seru dan banyak peminatnya, dosanya tetap sama dan dampaknya bisa merusak reputasi seseorang dalam sekejap tanpa bisa ditarik kembali. Sebagai anak muda Aswaja, kita dituntut untuk menjadi filter, bukan malah menjadi penyebar berita yang belum jelas kebenarannya.
Satu komentar negatif mungkin terasa sepele bagimu, tapi bagi orang yang menerimanya, itu bisa menjadi pemicu depresi atau tekanan batin yang hebat. Islam mengajarkan kita untuk berkata baik atau diam; sebuah prinsip yang sangat mewah dan sulit diterapkan di tengah riuhnya media sosial. Mari kita melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol "kirim" dan bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini bermanfaat?"
Selain itu, pamer atau riya juga menjadi tantangan besar di platform media sosial yang mengutamakan visual dan gaya hidup. Seringkali kita merasa kurang bahagia karena terlalu sering membandingkan "behind the scene" hidup kita dengan "highlight reel" hidup orang lain. Tetaplah membumi, gunakan media sosial sebagai sarana dakwah kreatif atau berbagi inspirasi yang memotivasi, bukan untuk pamer kemewahan yang melukai hati orang lain.
Tabayyun atau verifikasi informasi adalah kunci agar kita tidak menjadi korban hoax yang bisa memicu perpecahan antarumat. Jangan mudah terprovokasi oleh judul artikel yang clickbait atau potongan video yang sudah diedit sedemikian rupa untuk menyudutkan pihak tertentu. Generasi cerdas adalah generasi yang selalu meriset kembali setiap informasi yang lewat di beranda mereka dengan akal sehat dan hati yang bersih.
Kita juga perlu menjaga kehormatan diri dengan tidak mengumbar hal-hal pribadi yang tidak pantas dikonsumsi publik demi mencari engagement. Popularitas di dunia maya itu fana, namun jejak digital yang buruk akan tertinggal sangat lama dan bisa menghambat masa depanmu sendiri. Jadikan akun media sosialmu sebagai portofolio kebaikan yang membuat orang lain merasa terinspirasi setiap kali mengunjungi profilmu.
Ingatlah bahwa setiap konten yang kita unggah adalah investasi, entah itu investasi pahala jariah atau justru dosa jariah yang terus mengalir. Gunakanlah kreativitasmu untuk membuat konten-konten yang menyejukkan batin, memberikan edukasi, atau setidaknya menghibur tanpa menghina fisik orang lain. Kita punya kekuatan besar untuk mengubah wajah internet Indonesia menjadi lebih islami dan beradab.
Motto Inspirasi: "Jempolmu adalah cerminan hatimu; ketiklah kebaikan agar duniamu dipenuhi keindahan."
Meta Deskripsi: Panduan etika bermedia sosial menurut Islam untuk anak muda. Cara menghindari ghibah digital dan menerapkan tabayyun di era informasi cepat. Keywords: Adab Media Sosial, Etika Digital Islam, Bahaya Ghibah, Tabayyun, Konten Positif.

Komentar
Posting Komentar