Langsung ke konten utama

Resolusi Jihad: Saat Sarung dan Sorban Melawan Penjajah

Selamat pagi, generasi emas bangsa! Mari sejenak menoleh ke belakang untuk mengambil api semangat dari para pahlawan yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran besar para ulama dan santri, terutama melalui peristiwa yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Mungkin selama ini kita hanya mengenal 10 November sebagai Hari Pahlawan, namun akarnya ada pada seruan jihad yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy'ari. Ini adalah bukti nyata bahwa agama dan nasionalisme bisa berjalan beriringan tanpa perlu saling bertabrakan.

Bayangkan di masa itu, para santri yang terbiasa memegang kitab kuning tiba-tiba harus memegang senjata bambu runcing demi mempertahankan kedaulatan negara. Resolusi Jihad menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman (hubbul wathan minal iman), sebuah prinsip yang sangat relevan untuk kita teladani. Anak muda saat ini perlu tahu bahwa kebebasan yang kita nikmati sekarang dibayar dengan darah dan doa para syuhada.

Gaya perjuangan kaum sarungan ini unik karena mereka bergerak bukan atas dasar ambisi kekuasaan, melainkan kewajiban agama untuk menolak kedhaliman. Fatwa yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 itu berhasil membakar semangat rakyat di seluruh Jawa dan Madura untuk bangkit melawan kembalinya NICA. Tanpa seruan sakral tersebut, mungkin semangat perlawanan di Surabaya tidak akan sedahsyat yang tercatat dalam buku-buku sejarah.

Pelajaran penting bagi kita adalah tentang persatuan; saat itu tidak ada perdebatan tentang perbedaan suku atau kelompok kecil. Semua bersatu di bawah komando ulama untuk satu tujuan besar, yaitu Indonesia yang merdeka dan bermartabat. Di era media sosial yang penuh polarisasi ini, semangat Resolusi Jihad seharusnya menjadi pengingat untuk tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu sepele.

Resolusi Jihad juga mengajarkan kita tentang pentingnya memiliki prinsip hidup yang teguh meskipun harus menghadapi lawan yang lebih modern secara teknologi. Para santri tidak gentar meski lawan punya tank dan pesawat, karena mereka punya keyakinan bahwa kebenaran pasti akan menang. Mentalitas pantang menyerah inilah yang harus kita adopsi dalam menghadapi tantangan ekonomi dan persaingan global saat ini.

KH Hasyim Asy'ari sebagai nahkoda gerakan ini menunjukkan bahwa seorang intelektual muslim harus peduli pada nasib bangsanya secara aktif. Beliau tidak hanya diam di dalam pesantren, tapi memberikan arahan strategis yang dampaknya terasa secara nasional hingga hari ini. Inilah sosok teladan bagi anak muda agar tidak menjadi generasi yang apatis terhadap isu-isu sosial dan kenegaraan yang sedang terjadi.

Memperingati sejarah bukan berarti kita ingin kembali ke masa lalu, tapi untuk mengambil nilai-nilai luhur yang bisa diterapkan di masa depan. Jika dulu musuhnya adalah penjajah fisik, sekarang musuh kita adalah kebodohan, kemiskinan, dan hilangnya adab di ruang digital. Semangat jihad masa kini adalah jihad literasi, jihad ekonomi, dan jihad untuk terus menebar kebaikan di tengah gempuran konten negatif.

Jadi, setiap kali kamu memakai sarung atau melihat pesantren, ingatlah bahwa di sana ada jejak perjuangan yang sangat heroik bagi bangsa ini. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan cara menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing di bidang yang kita tekuni. Jangan biarkan pengorbanan mereka menjadi sia-sia hanya karena kita terlalu malas untuk belajar dan berkontribusi bagi masyarakat.

Motto Inspirasi: "Tangan yang memegang tasbih adalah tangan yang sama yang mampu menggetarkan dunia demi kebenaran."

Meta Deskripsi: Mengenal sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober dan peran besar KH Hasyim Asy'ari dalam kemerdekaan Indonesia. Inspirasi semangat nasionalisme santri. Keywords: Resolusi Jihad, Sejarah NU, KH Hasyim Asy'ari, Hari Santri, Perjuangan Ulama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makhluk Sosial

Manusia sejatinya diciptakan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia lain. Allah SWT menciptakan manusia dari laki - laki dan perempuan, kemudian beranak pinang, sehingga bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa, tujuannya agar mereka bisa saling menngenal dan membantu satu sama lain dalam berbagai segi kehidupan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur'an surat Al HUjurat ayat 13 : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13) ...

Solusi dalam Kesulitan

Agama Islam selalu mengajarkan bahwa manusia itu wajib untuk selalu berusaha atau berikhtiar. Sedang usaha / ikhtiar itu sendiri ada 2 (dua) macam, yaitu ikhtiar batin dan iktiar lahir. Pertama ikhtiar batin. Dalam bahasa lain ikhtiar batin disebut juga berdo'a. Allah SWT selalu menyerukan kepada hambanya-Nya agar selalu berdo'a setiap saat dimanapun an kapanpun. Minimal pada saat sholat 5 waktu. Setiap rakaat setelah takbir, diwajibkan membaca surat Al Fatihah. Dalam surat alfatihah ayat 5 yang berbunyi : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Artinya : "hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan". (QS. Alfatihah : 5)

Sholat Tiang Agama

Rukun islam yang kedua setelah syahadat adalah sholat. Begitu pentingnya sholat ini, sehingga dalam urutan rykun Islam, Allah SWT menepatkan di urutan kedua setelah seoatng manusia berikrar masuk islam dengan membaca dua kalimat Syahadat. Sholat merupakan jenis ibadah yang sangat kompleks. Dengan sholat seorang hamba akan berkomunikasi dengan Allah SWT. Dalam sholat terdapat bacaan yang memuji Allah SWT juga terdapat untaian do'a.